Belajar Bahasa Baru Dapat Menunda Kemunduran Mental di Usia Tua

Bagaimana kalau saat ini ada yang menyarankan kita untuk belajar bahasa baru? Entah itu bahasa Jerman atau bahasa Urdu, mungkin sebagian besar dari kita akan menolak dengan halus; Tidak berminat lah, tidak ada waktu lah, pokoknya segudang alasan bisa keluar. Kalau sejauh ini kita bisa bertahan hidup dengan satu, dua, atau tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan mungkin satu bahasa daerah), untuk apa belajar bahasa baru lagi?

Mungkin untuk menuai manfaat yang akan didapat bertahun-tahun kemudian. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thomas Bak dan rekan-rekannya dari University of Edinburgh, Inggris [jurnal full text], menemukan bahwa bilingualism (kemampuan menguasai dua bahasa) dan multilingualism (tiga bahasa atau lebih) yang didapat di masa muda bisa berdampak positif pada kinerja otak kita di masa lanjut usia.

Baca lebih lanjut

6 Cara untuk Mengatasi Kecemasan yang Berlebihan

Bahkan orang yang merasa dirinya paling pede sekalipun suatu saat akan pernah merasakan kecemasan. Mungkin ia pede-pede saja kalau harus berpidato atau melakukan presentasi di depan umum, tapi bisa jadi ia menjerit ketakutan ketika melihat ada laba-laba di pojok langit-langit kamarnya.

Merasa takut atau cemas adalah emosi yang lumrah dialami dalam hidup. Tapi tentu tidak baik juga kalau kita terlalu sering mengalami kecemasan yang berlebihan sampai takut melakukan banyak hal dalam kehidupan kita sehari-hari.

Berikut adalah tips dari seorang psikolog, Melanie Greenberg, mengenai 6 hal yang bisa kita lakukan untuk mengatasi kecemasan yang berlebihan.

Baca lebih lanjut

Durian Runtuh: Mengapa Mendapat Rezeki Nomplok Belum Tentu Membuat Anda Lebih Bahagia

Apa yang kira-kira anda rasakan seandainya anda memenangkan undian senilai 1 milyar rupiah? Senang bukan kepalang? Pastinya sebagian besar dari kita akan merasa begitu.

Bahkan, mungkin dengan dipicu oleh pertanyaan barusan saja, bayangan mengenai 10 milyar itu sudah berputar-putar di kepala kita. Kita mulai berandai-andai, akan dipakai untuk apa saja uang sebanyak itu. Mungkin sebuah rumah yang bagus, mobil,  atau ditabung untuk pergi berhaji.

Tak ada yang salah dengan angan-angan itu. Tapi mungkin agak kurang tepat jika anda mengira bahwa mendapat rezeki nomplok sebesar itu bisa membuat kehidupan anda untuk seterusnya jauh lebih bahagia dan menyenangkan.

Mengapa?

Baca lebih lanjut

Bagaimana Cara Meminta Maaf yang Efektif

Manusia tak pernah lepas dari yang namanya salah. Sebagai pribadi, kita mungkin pernah melupakan janji penting atau tak sengaja berbuat sesuatu yang mencelakai orang lain. Sebagai organisasi, mungkin barang yang kita jual atau layanan yang kita berikan mengecewakan konsumen.

Meminta maaf biasanya adalah hal pertama yang (seharusnya) menjadi refleks. Cuma masalah belum tentu selesai di situ; Masih bagus kalau mereka mau memberikan maaf. Tapi kalau tidak? Masalah bisa menjadi semakin panjang dan merepotkan bagi semua.

Lalu, apakah ada cara yang efektif untuk menyusun permintaan maaf yang bisa diterima dengan lebih baik?

Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Ryan Fehr dan Michele Gelfand dari University of Maryland dan dilaporkan oleh BPS Research Digest, permintaan maaf rupanya memiliki beberapa aspek yang sebaiknya dipenuhi, dan seperti apa karakteristik ‘audiens’ permintaan maaf kita.

Baca lebih lanjut

Bagaimana Kebiasaan Berinternet Dapat Menggambarkan Kesehatan Mental Anda

Internet kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Baik di kantor, rumah, atau di perjalanan, pasti pada suatu saat kita akan mengakses internet, entah itu untuk bekerja, bermain, atau bersosialisasi.

Setiap orang biasanya memiliki kebiasaan berinternetnya sendiri-sendiri. Ada yang menghabiskan waktunya di Facebook dan Twitter. Sementara itu uang lain mungkin bermain game online sampai larut malam.

Apa kata kebiasaan berinternet itu tentang diri kita?

Rupanya bagaimana kita menggunakan internet bisa terkait dengan seberapa sering kita mengalami depresi, seperti yang digambarkan oleh sebuah studi di Missouri University of Science and Technology dan dilaporkan oleh Scientific American.

Baca lebih lanjut

Bagaimana Pria dan Wanita Mengambil Keputusan di Bawah Tekanan

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membahas mengenai bagaimana stres dan tekanan mempengaruhi cara berpikir kita dalam mengambil keputusan. Ternyata dalam situasi yang demikian, orang cenderung lebih memperhatikan hal-hal positif dan mengabaikan yang negatif.

Rupanya ada hal lain yang bisa mempengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan, tapi satu hal ini sulit untuk kita hindari karena sifatnya yang sudah terberi sejak lahir: jenis kelamin.

Sebuah studi yang dilakukan Nicole Lighthall dari University of Southern California, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa dalam kondisi tertekan, pria dan wanita memiliki reaksi yang berbeda dalam membuat keputusan.

Baca lebih lanjut

3 Pertanyaan Kunci Saat Wawancara Kerja yang Harus Dikuasai

Satu hal yang paling membuat jantung berdebar-debar saat melamar kerja adalah saat kita harus melewati proses wawancara, baik itu dengan bagian SDM maupun dengan bagian pengguna.

Mungkin kita sudah berkali-kali melamar kerja dan sudah hapal tes-tes psikologi yang diajukan. Tapi tiap kali kita melamar kerja, kita akan menghadapi orang yang berbeda dalam wawancara.

Meskipun mereka sering mengajukan beberapa pertanyaan  yang sama, tetap saja proses ini lebih tak terduga dibanding menghadapi selembar kertas. Padahal, seperti yang diungkapkan oleh George Bradt dari Forbes, sebenarnya kita cukup menguasai 3 pertanyaan berikut ini untuk ‘memenangkan’ wawancara kerja.

Baca lebih lanjut