Belajar Bahasa Baru Dapat Menunda Kemunduran Mental di Usia Tua

Bagaimana kalau saat ini ada yang menyarankan kita untuk belajar bahasa baru? Entah itu bahasa Jerman atau bahasa Urdu, mungkin sebagian besar dari kita akan menolak dengan halus; Tidak berminat lah, tidak ada waktu lah, pokoknya segudang alasan bisa keluar. Kalau sejauh ini kita bisa bertahan hidup dengan satu, dua, atau tiga bahasa (Indonesia, Inggris, dan mungkin satu bahasa daerah), untuk apa belajar bahasa baru lagi?

Mungkin untuk menuai manfaat yang akan didapat bertahun-tahun kemudian. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thomas Bak dan rekan-rekannya dari University of Edinburgh, Inggris [jurnal full text], menemukan bahwa bilingualism (kemampuan menguasai dua bahasa) dan multilingualism (tiga bahasa atau lebih) yang didapat di masa muda bisa berdampak positif pada kinerja otak kita di masa lanjut usia.

Penelitian 61 Tahun

Secara teknis, riset yang mereka lakukan meliputi penelitian yang terpaut 61 tahun lamanya. Tepatnya pada tahun 1947, lebih dari seribu anak-anak berusia 11 tahun di Edinburgh yang hanya bisa berbahasa Inggris dites kecerdasan mentalnya. Dengan data kecerdasan di masa kanak-kanak ini sebagai tolok ukurnya, Bak dkk. mencari anak-anak itu di tahun 2008 dan berhasil menemukan 853 orang; kini semuanya berusia rata-rata 72,5 tahun. Merekapun kemudian diuji kembali kecerdasan mentalnya dan seberapa jauh penguasaan bahasa mereka selain bahasa Inggris (jika ada).

Hasilnya, mereka yang menguasai dua bahasa mencapai skor yang lebih tinggi dalam ranah kecerdasan umum dibanding mereka yang cuma bisa berbahasa Inggris. Yang menguasai tiga bahasa atau lebih lebih tinggi lagi skornya dibanding yang lain, dan faktor-faktor lain seperti kecerdasan di masa kanak-kanak, usia, jenis kelamin, atau status ekonomi tidak ikut mempengaruhi perbedaan-perbedaan ini.

Menariknya lagi, di antara mereka yang menguasai dua bahasa yang lebih, tidak ada perbedaan berarti antara bilingual aktif (yang rutin menggunakan bahasa kedua) maupun pasif (jarang menggunakan bahasa kedua). Bak menduga bahwa tindakan belajar bahasa kedua saja sudah cukup untuk meninggalkan efek positif yang permanen pada kinerja mental, terlepas dari apakah kemudian bahasa baru itu rajin digunakan atau tidak.

Bagaimana sebenarnya aktivitas belajar bahasa baru ini bisa meningkatkan kinerja mental? Menurut Bak, para bilingual atau multilingual ini mengaktifkan semua kemampuan berbahasanya meski di bawah sadar, sehingga otak mereka juga terstimulasi lebih intens ketika harus mencerna, menyaring, dan menyalurkan informasi dengan bahasa yang tepat. Efek dari kemampuan berbahasa banyak ini terhadap kinerja mental, tambah Bak, juga sebanding dengan berolahraga atau tidak merokok.

Nah, apakah sekarang anda tertarik untuk belajar bahasa baru?

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s