Bagaimana Kebiasaan Berinternet Dapat Menggambarkan Kesehatan Mental Anda

Internet kini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Baik di kantor, rumah, atau di perjalanan, pasti pada suatu saat kita akan mengakses internet, entah itu untuk bekerja, bermain, atau bersosialisasi.

Setiap orang biasanya memiliki kebiasaan berinternetnya sendiri-sendiri. Ada yang menghabiskan waktunya di Facebook dan Twitter. Sementara itu uang lain mungkin bermain game online sampai larut malam.

Apa kata kebiasaan berinternet itu tentang diri kita?

Rupanya bagaimana kita menggunakan internet bisa terkait dengan seberapa sering kita mengalami depresi, seperti yang digambarkan oleh sebuah studi di Missouri University of Science and Technology dan dilaporkan oleh Scientific American.

Penelitian

Dalam penelitian ini [pdf], 216 mahasiswa S1 diminta untuk mengisi sebuah kuesioner mengenai ‘pengalaman emosional mereka.’ Yang tidak mereka tahu adalah kuesioner itu mengandung pertanyaan-pertanyaan yang diciptakan untuk mengukur seberapa sering mereka mengalami depresi.

Setelah itu para mahasiswa ini dimonitor penggunaan internetnya selama 1 bulan. Dalam monitoring itu, para peneliti mengukur 3 kategori penggunaan:

  • Agregat, atau seberapa banyak lalu lintas data yang terjadi, yang bisa menggambarkan seberapa sering mereka mengakses internet
  • Aplikasi, atau jenis-jenis aplikasi apa sajakah (misalnya aplikasi chatting, web browsing, atau file sharing) yang mereka pakai dalam mengakses internet
  • Entropi, atau seberapa banyak lalu lintas data yang berbeda dalam satu waktu, yang bisa terjadi jika membuka beberapa aplikasi atau beberapa tab di web browser secara bersamaan

Hasil

Pada akhir bulan, para peneliti menemukan bahwa beberapa perilaku tertentu dalam berinternet berhubungan dengan kecenderungan untuk mengalami depresi.

Tingginya frekuensi dalam berkirim e-mail, chattingpeer-to-peer sharing (seperti menggunakan program torrent untuk mengunduh musik atau film), bermain online games, serta video streaming ternyata berkaitan secara positif dengan tingginya frekuensi para partisipan dalam mengalami depresi.

Tak hanya itu, para peneliti juga menemukan tingginya entropi dalam berinternet juga berkaitan secara positif dengan tingginya kecenderungan pengalaman depresi pada partisipan. Tingginya entropi ini berarti para partisipan tersebut sering multi-tasking dengan membuka-buka beberapa aplikasi sekaligus atau banyak situs internet secara bersamaan.

Analisis

Apa artinya temuan itu? Menurut para peneliti, tingginya tingkat penggunaan internet bisa menunjukkan gejala adiksi atau kecanduan, yang juga memiliki kaitan dengan depresi. Tingginya penggunaan beberapa aplikasi tertentu, misalnya aplikasi chatting, juga bisa terkait dengan kurangnya hubungan atau kontak di dunia nyata, yang lagi-lagi terkait dengan depresi.

Tingginya tingkat entropi mungkin menunjukkan gejala yang disebut anhedonia, yang ditandai dengan kekurangmampuan untuk mengalami perasaan menyenangkan dari sebuah aktivitas yang umumnya menimbulkan perasaan positif, dan tentu saja juga terkait dengan depresi.

Untuk mengatasi ini, maka mereka yang mengalami gejala ini, ketika berinternet, akan terus-menerus mencari-cari stimulasi yang berbeda (misalnya dengan beralih ke aplikasi yang lain atau membuka situs baru) untuk mendapatkan hal yang menarik sehingga bisa meningkatkan mood positif mereka.

Bagaimana dengan anda: Apakah ada kebiasaan berinternet anda yang tergambarkan di sini?

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s