Kekuatan Cerita yang Luar Biasa dalam Membujuk dan Mempengaruhi Orang

Pernahkah anda begitu terhanyut oleh sebuah cerita?

Mungkin film yang tadi anda tonton di bioskop. Video game yang baru tamat dimainkan. Novel yang telah selesai anda baca. Mungkin juga lagu yang menurut anda liriknya ‘gue banget.’

Tak hanya itu sebuah cerita bisa membuai kita. Gosip tetangga, wawancara di televisi, atau kotbah jumat juga bisa mengandung cerita yang dapat membuat kita gemas, mengelus dada, atau menitikkan air mata.

Tapi apakah kekuatan sebuah cerita yang baik hanya sebatas reaksi emosional saja?

Sebuah penelitian yang dilakukan Melanie Green dan Timothy Brock dari Ohio State University [pdf] mencoba mengukur bagaimana sebuah cerita yang menghanyutkan bisa begitu membujuk dan mempengaruhi keyakinan seseorang.

Transportation

Bagaimana menjelaskan keterhanyutan dalam cerita secara konkret? Penelitian ini menggunakan istilah ‘transportation’, dalam artian  bagaimana sebuah cerita yang begitu bagus bisa membawa (‘transport‘) pembacanya ke dunia atau lingkungan lain yang digambarkan di dalam cerita tersebut.

Lebih spesifiknya, ada beberapa aspek yang menjabarkan konsep transportation:

  • Keterlibatan secara emosional dengan cerita
  • Perhatian pikiran yang sepenuhnya terpusat pada cerita
  • Adanya perasaan suspense (penasaran ingin tahu bagaimana lanjutan ceritanya)
  • Tidak sadar terhadap kondisi di sekitar ketika sedang membaca cerita
  • Adanya gambaran mental mengenai cerita itu di dalam pikiran

Dengan adanya aspek-aspek itu, sebuah kuesionerpun bisa disusun untuk melihat sejauh mana seseorang merasa terhanyut dalam sebuah cerita yang ia baca.

Penelitian

Cerita yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah cerita pendek sembilan halaman yang berjudul “Murder at the Mall” (“Pembunuhan di Pusat Perbelanjaan.”) Secara singkat, cerpen ini berkisah tentang seorang mahasiswi bernama Joan yang bercerita bagaimana adik kecilnya, Katie, dibunuh secara brutal di mal oleh seorang pasien rumah sakit jiwa yang kabur. Cukup membuat bulu kuduk merinding ya?

Sejumlah partisipan kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta untuk membaca cerpen itu dalam beragam variasi. Dalam beberapa kelompok, cerita itu secara jelas dinyatakan sebagai fiksi belaka, sementara pada kelompok lain cerita itu dikisahkan berasal dari cuplikan berita; dengan kata lain, kisah nyata.

Variasi juga terjadi dalam manipulasi tingkat keterhanyutan. Ada kelompok yang secara eksplisit diinstruksikan untuk ‘terjun’ dan membayangkan diri mereka sebagai aktor dalam kisah itu. Kelompok lain hanya diminta untuk memusatkan perhatian pada cerita. Untuk mengurangi tingkat keterhanyutan, ada pula kelompok yang diminta untuk menandai kata-kata yang dirasa sulit dimengerti oleh anak kelas 4 SD.

Setelah para partisipan selesai membaca cerita, sejumlah hal kemudian diukur. Selain tingkat keterhanyutan mereka, tingkat keyakinan mereka terhadap hal-hal yang secara implisit terkait dengan cerita juga diukur. Setelah selesai membaca cerita, partisipan kemudian juga diminta untuk menandai bagian-bagian cerita yang mereka rasa tidak masuk akal atau bertentangan dengan fakta.

Hasil

Ketika hasil pengukurannya dianalisis, ditemukan sesuatu yang menarik. Mereka yang sangat terbawa ke dalam cerita juga memiliki keyakinan yang konsisten dengan tema ceritanya.

Masih ingat bagaimana cerita “Murder at the Mall”? Mereka yang sangat menghayati cerita itu ternyata juga cenderung yakin bahwa mal adalah tempat yang tidak aman, memiliki pandangan lebih negatif mengenai pasien rumah sakit jiwa, merasa bahwa pembunuhan di mal adalah hal yang sering terjadi, dan merasa bahwa dunia itu tidak adil.

Tak hanya itu, orang-orang ini juga menemukan lebih sedikit ketidakkonsistenan cerita dibanding mereka yang tingkat keterhanyutannya rendah. Dengan kata lain, terhanyut dalam cerita membuat mereka jadi cenderung mudah percaya pada keseluruhan cerita tersebut dan kurang memperhatikan kebohongan-kebohongan yang mungkin ada.

Namun hal terakhir yang menurut saya cukup mengejutkan adalah: Pelabelan ‘fiksi belaka’ atau ‘kisah nyata’ pada cerita itu tak ada kaitannya dengan seberapa jauh para partisipan merasa terhanyut dalam cerita. Artinya, selama cerita itu sungguh menggugah bagi mereka, keyakinan mereka juga ikut berubah (seperti yang telah dijelaskan sebelumnya) meskipun mereka tahu kalau cerita itu hanya bohong-bohongan.

Sekarang setelah anda tahu semua ini, mungkin ada baiknya saya mengulang pertanyaan pertama di awal artikel ini: Pernahkah anda begitu terhanyut oleh sebuah cerita…sampai-sampai keyakinan, bahkan mungkin kehidupan anda, berubah karenanya?

Iklan

One thought on “Kekuatan Cerita yang Luar Biasa dalam Membujuk dan Mempengaruhi Orang

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s