Mengapa Juara Tiga Lebih Bahagia dibanding Juara Dua

Olimpiade telah dimulai. Setelah berlatih selama berbulan-bulan, kini para atlet harus bersaing habis-habisan di ajang yang hanya terjadi sekali tiap empat tahun. Dan seperti layaknya kompetisi lainnya, hanya ada satu pemenang di antara puluhan atlet yang bertanding dalam satu cabang.

Setelah semua pertandingan usai, tentu ada satu orang atau kelompok yang paling berbahagia: Mereka yang menduduki tempat pertama dan meraih medali emas. Lalu siapa yang paling berbahagia di urutan kedua? Menurut common sense kita, tentulah orang yang mendapat tempat kedua dan meraih medali perak.

Ternyata tidak. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mendapat tempat ketiga dan meraih medali perunggu justru lebih bahagia dibanding yang mendapat medali perak.

Kok bisa?

Counterfactual Thinking

Semuanya diawali oleh sebuah sifat manusia yang dinamakan counterfactual thinking. Ketika kita mengalami suatu kejadian, entah itu baik atau buruk, kita tidak hanya memikirkan mengenai apa yang sedang terjadi saja. Secara refleks, kita juga sebentar-sebentar memikirkan mengenai kemungkinan kejadian yang tidak terwujud.

Misalnya, ketika kita kehujanan saat sedang menunggu angkutan umum di pinggir jalan. Kita tidak hanya memikirkan betapa sialnya kita waktu itu, tapi kita juga memikirkan alternatif peruntungan kita. “Seandainya tadi saya bawa payung…” “Coba kalau tadi saya pulang dari kantor lebih cepat…” dan berbagai pengandaian serta penyesalan lainnya.

Tidak hanya pada saat kita sial, saat kita mengalami peristiwa yang baikpun counterfactual thinking tetap terjadi, meski tidak sesering ketika kita susah. Ketika hujan turun saat kita sudah sampai rumah, pasti kita pernah terpikir, “Coba kalau tadi saya pulang dari kantor lebih lambat…” atau “Seandainya tadi jalanan macet, pasti saya kehujanan di jalan sekarang.”

Lalu mengapa juara kedua dan ketiga yang sama-sama kalah bisa berbeda counterfactual thinking-nya?

Penelitian

Tiga penelitian yang terkait dengan pertanyaan itu dilakukan oleh Thomas Gilovich dan rekan-rekannya dari Cornell University, Amerika Serikat. [pdf] Dalam penelitian pertama, mereka merekam siaran Olimpiade Barcelona 1992 saat pemenang kedua dan ketiga selesai bertanding dan saat mereka berada di podium dan menerima medali perak dan perunggu. Sekelompok partisipan kemudian diminta untuk menilai ekspresi emosi mereka tanpa mengetahui siapa menjadi pemenang keberapa.

Selanjutnya, para peneliti juga merekam wawancara stasiun TV dengan para pemenang medali perak dan perunggu Olimpiade 1992 segera setelah mereka turun dari podium. Seperti penelitian sebelumnya, sekelompok partisipan juga diminta untuk menilai. Tapi kali ini mereka diminta untuk menilai seperti apa counterfactual thinking para atlet tersebut dari jawaban yang mereka berikan dalam wawancara TV: Apakah mereka berfokus pada “Saya hampir saja…” atau “Setidaknya saya…”?

Penelitian yang ketiga berfungsi sebagai konfirmasi langsung dari penelitian sebelumnya. Gilovich dan rekan-rekannya mewawancarai sejumlah atlet yang bertanding dalam sebuah kejuaraan atletik lokal. Mereka yang menjadi pemenang kedua dan ketiga ditanya mengenai apa yang mereka pikirkan sesaat setelah mereka mengetahui posisi mereka dalam pertandingan.

Hasil

Hasil dari ketiga penelitian itu ternyata cukup serupa. Dalam penelitian pertama, atlet yang menempati posisi ketiga dinilai oleh para partisipan terlihat lebih bahagia dibanding yang menempati posisi kedua. Dan penilaian oleh para partisipan ini cukup konsisten, baik ketika para atlet baru saja menyelesaikan pertandingan (misalnya baru melewati garis akhir) maupun ketika mereka sedang berdiri di podium untuk menerima medali.

Lalu apa kaitannya dengan counterfactual thinking? Dari penelitian kedua dan ketiga, terlihat ada perbedaan cara berpikir antara juara kedua dan ketiga. Mereka yang meraih medali perak cenderung lebih berfokus pada “Saya hampir saja [meraih medali emas]”, sementara mereka yang meraih medali perunggu justru cenderung lebih berfokus pada “Setidaknya saya [mendapat medali]”.

Menurut Gilovich dan rekan-rekannya, para peraih medali perak melakukan counterfactual thinking dengan membayangkan hasil yang hampir saja mungkin terjadi. “Seandainya tadi saya lari lebih cepat, pasti saya bisa jadi juara pertama.” Karena mereka membandingkan diri dengan juara pertama lebih unggul, mereka jadi lebih berfokus pada kegagalan mereka.

Sementara itu, para peraih medali perunggu melakukan counterfactual thinking yang berbeda. Meskipun mereka juga membayangkan hasil yang hampir saja mungkin terjadi, namun yang mereka pikirkan adalah “Paling tidak saya sudah mendapat medali.” Karena mereka membandingkan diri dengan juara keempat yang tidak mendapat apa-apa, mereka lebih berfokus pada pencapaian mereka dan terlihat lebih bahagia.

Bagaimana dengan anda: Apakah anda pernah melakukan counterfactual thinking seperti ini ketika menjadi juara kedua atau ketiga dalam kompetisi?

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s