Meningkatkan Partisipasi Publik dengan Berita yang Berpihak

Dalam interaksi sehari-hari, saya sering mendapati orang-orang yang sinis secara politik. Politik itu kotor, kata mereka. Maka golput dan keengganan untuk berpartisipasi dalam dunia politik secara luas kemudian menjadi sikap. Tentu sebuah negara demokrasi yang  didominasi oleh orang-orang semacam ini sulit untuk dikatakan sebagai demokrasi yang sehat.

Sementara itu, pengetahuan yang diperoleh masyarakat luas mengenai situasi politik kebanyakan berasal dari media massa. Dan berita-berita yang ditulis atau disiarkan di sana, hampir semua orang berharap, idealnya adalah jurnalisme yang faktual serta tidak memihak pada satu kepentingan atau yang lainnya.

Tapi apakah memang jurnalisme yang objektif itulah yang dibutuhkan untuk membuat orang lebih terlibat dalam politik?

Sebuah eksperimen dari Sungkyunkwan University di Korea, seperti dilaporkan oleh Techcrunch, mungkin membuktikan sebaliknya: Bahwa mereka yang selama ini malas berpartisipasi dalam politik justru lebih bisa digerakkan oleh berita yang berpihak.

Definisi

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai penelitiannya, mungkin ada baiknya kita mengklarifikasi definisi ‘civic engagement‘ (yang saya terjemahkan sebagai ‘partisipasi publik’) yang digunakan dalam penelitian tersebut.

Menurut Wikipedia, civic engagement adalah ‘aktivitas individu atau kelompok yang ditujukan untuk mengenali dan menangani masalah-masalah yang menjadi kepedulian masyarakat.’ Bentuknya bisa berupa menjadi anggota aktif pada lembaga swadaya masyarakat, memilih dalam pemilihan umum, atau menulis petisi dan berdemonstrasi.

Sementara itu, ‘reinforcing article’ (yang saya terjemahkan sebagai ‘berita berpihak’) didefinisikan oleh penelitian ini sebagai ‘artikel yang menunjukkan posisi tertentu dalam sebuah isu politik. Ketika artikel obyektif hanya memberikan informasi faktual (5W1H: apa, di mana, kapan, siapa, mengapa, dan bagaimana), artikel yang berpihak merefleksikan opini reporternya.’

Penelitian

Dalam eksperimen yang dilakukan Minha Kim dari Sungkyunkwan University, Korea [pdf] ini, sekelompok mahasiswa dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Sebelumnya kedua kelompok ini diteliti mengenai tingkat partisipasi politik mereka, dan disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat partisipasi politik yang signifikan antara kedua kelompok itu.

Kedua kelompok tersebut kemudian diberikan dua artikel yang berbeda cara penyampaiannya namun dengan topik yang sama: Mengenai gerakan protes atas impor daging sapi Amerika Serikat ke Korea yang diduga menjadi penyebab wabah sapi gila.

Kelompok pertama diberi sebuah artikel berita yang sifatnya obyektif, sementara kelompok kedua diberi artikel berpihak yang secara eksplisit mendukung gerakan tersebut dan mengajak pembacanya untuk ikut berdemonstrasi.

Setelah setiap kelompok membaca artikel tersebut, tingkat dukungan mereka terhadap gerakan protes diukur. Dibandingkan dengan mereka yang membaca artikel obyektif, kelompok yang membaca artikel berpihak cenderung lebih meningkat keinginannya untuk berpartisipasi. Namun menariknya hal ini hanya berlaku pada mereka yang tingkat partisipasi politiknya rendah sebelumnya.

Mereka yang partisipasi politiknya sebelumnya sudah cukup tinggi justru lebih tergerak untuk mendukung gerakan protes setelah membaca artikel obyektif. Orang-orang dengan partisipasi politik awal tinggi malah menjadi kurang mendukung gerakan protes ketika mereka berada di dalam kelompok yang membaca artikel berpihak.

Kesimpulan

Menurut Minha Kim, orang-orang yang partisipasi politiknya rendah biasanya tidak memiliki pengetahuan politik yang cukup untuk memandu sikap, pertimbangan, dan tindakan mereka. Oleh karena itu, artikel yang berpihak menjadi lebih menarik secara emosional dan persuasif bagi orang-orang dari golongan ini.

Di sisi lain, mereka yang partisipasi politiknya sudah tinggi sebelumnya umumnya juga sudah memiliki pengetahuan politik yang baik serta sikap dan keputusan politik yang kuat. Ini menyebabkan artikel yang obyektif lebih bisa mereka terima, sementara artikel yang sifatnya berpihak justru menjadi terdengar menggurui.

Satu hal menarik lagi yang patut dibahas dari kesimpulan penelitian ini; Partisipasi politik ternyata tidak secara signifikan terkait dengan konsumsi artikel atau berita formal yang ditemui di media massa tradisional (surat kabar, majalah, televisi), melainkan lebih banyak berkaitan dengan konsumsi berita di internet serta perbincangan dengan orang lain.

Bagaimana menurut anda: Apakah anda pernah membaca sebuah berita atau artikel ‘berpihak’ yang mendorong anda untuk aktif mendukung atau menentang suatu isu publik?

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s